Bagi pemilik atau pengelola hotel, villa, dan guest house, posisi hotel di OTA seperti Booking.com, Agoda, atau Expedia punya pengaruh besar terhadap jumlah booking. Semakin mudah hotel ditemukan calon tamu, semakin besar juga peluang mendapatkan reservasi.
Karena itu, ketika ranking hotel di OTA tiba-tiba turun, hal ini tentu perlu diperhatikan. Bukan berarti hotel sedang tidak laku, tetapi bisa ada beberapa faktor yang membuat algoritma OTA menempatkan properti di posisi yang lebih rendah. Lalu, apa penyebabnya dan bagaimana cara menaikkan kembali ranking hotel di OTA?
Apa Itu Ranking Hotel di OTA?
Ranking hotel di OTA adalah posisi sebuah hotel ketika calon tamu melakukan pencarian di platform online travel agent berdasarkan destinasi, tanggal menginap, jumlah tamu, dan filter tertentu.
Misalnya, seseorang mencari "hotel di Seminyak" untuk tanggal tertentu. Hotel yang muncul di halaman awal biasanya memiliki peluang lebih besar untuk dilihat dan diklik dibandingkan hotel yang berada jauh di halaman berikutnya.
Setiap OTA memiliki sistem dan algoritma sendiri. Namun secara umum, performa hotel, harga, ketersediaan kamar, jumlah booking, review, hingga interaksi pengguna dapat memengaruhi visibilitas sebuah properti.
Penyebab Ranking Hotel di OTA Turun
1. Harga Hotel Kurang Kompetitif
Harga menjadi salah satu pertimbangan utama calon tamu. Jika harga kamar hotel lebih tinggi dibandingkan kompetitor dengan fasilitas dan lokasi yang mirip, calon tamu bisa memilih properti lain. Hal ini pada akhirnya dapat memengaruhi performa listing.
Namun, bukan berarti hotel harus selalu menjadi yang termurah. Yang lebih penting adalah memastikan harga sesuai dengan kondisi pasar, musim, kompetitor, serta value yang ditawarkan.
2. Review dan Rating Menurun
Review merupakan salah satu faktor penting dalam keputusan booking. Hotel dengan rating tinggi dan review positif biasanya lebih meyakinkan calon tamu. Sebaliknya, jika rating mulai turun atau banyak review negatif muncul, conversion dari halaman hotel bisa ikut terdampak.
Karena itu, jangan hanya mengejar jumlah review. Perhatikan juga kualitas pengalaman tamu selama menginap.
3. Conversion Rate Rendah
Hotel bisa saja mendapatkan banyak views dari OTA, tetapi belum tentu menghasilkan booking. Contohnya, listing hotel muncul 1.000 kali dan dikunjungi 100 orang, tetapi hanya menghasilkan sedikit reservasi. Kondisi seperti ini bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki, misalnya:
- Harga kurang menarik
- Foto kurang meyakinkan
- Informasi kamar tidak lengkap
- Kebijakan hotel kurang kompetitif
- Fasilitas tidak ditampilkan dengan jelas
- Kompetitor menawarkan value yang lebih baik
Karena itu, strategi marketing hotel tidak cukup hanya mengejar traffic. Booking dan conversion juga perlu diperhatikan.
4. Availability Kamar Terbatas
Jika kamar sering tidak tersedia pada tanggal yang banyak dicari, peluang hotel mendapatkan booking juga bisa berkurang. OTA tentu lebih mudah menampilkan properti yang tersedia untuk tanggal pencarian calon tamu. Pastikan inventory selalu diperbarui dan sinkron, terutama jika hotel menggunakan beberapa OTA sekaligus.
5. Konten Listing Tidak Optimal
Foto, judul kamar, deskripsi, fasilitas, dan informasi hotel ikut menentukan bagaimana calon tamu melihat sebuah properti. Foto yang gelap, terlalu sedikit, atau tidak menunjukkan keunggulan hotel dapat membuat calon tamu melewati listing. Coba evaluasi kembali:
- Apakah foto kamar masih relevan?
- Apakah fasilitas utama sudah ditampilkan?
- Apakah tipe kamar dijelaskan dengan jelas?
- Apakah keunggulan lokasi sudah ditulis?
- Apakah informasi hotel mudah dipahami?
Optimasi listing sering kali menjadi bagian yang terlupakan dalam pengelolaan OTA.
6. Kompetitor Lebih Aktif Melakukan Promo
Ranking hotel juga tidak berdiri sendiri. Performa kompetitor dapat memengaruhi posisi sebuah hotel. Misalnya, kompetitor mulai memberikan diskon, mobile rate, atau paket tertentu. Mereka kemudian mendapatkan lebih banyak booking dan interaksi.
Jika hotel tidak melakukan evaluasi terhadap harga dan promo, posisi listing bisa menjadi kurang kompetitif.
7. Performa Hotel Menurun
Penurunan booking, cancellation yang tinggi, atau performa penjualan yang tidak konsisten juga dapat menjadi tanda bahwa strategi distribusi hotel perlu dievaluasi. Inilah alasan mengapa pengelolaan OTA sebaiknya tidak hanya dilakukan saat occupancy sedang turun.
Data OTA perlu dipantau secara rutin untuk melihat perubahan performa dan mengambil tindakan lebih cepat.
Baca juga Komisi OTA: Berapa Biaya yang Harus Dibayar Hotel?
Bagaimana Cara Menaikkan Ranking Hotel di OTA?
Tidak ada satu trik yang bisa langsung membuat hotel naik ke posisi pertama. Yang diperlukan adalah optimasi secara menyeluruh. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
1. Evaluasi harga kompetitor
Bandingkan harga hotel dengan properti yang memiliki lokasi, fasilitas, dan target pasar yang serupa.
2. Optimalkan foto dan listing
Gunakan foto berkualitas dan pastikan informasi kamar, fasilitas, lokasi, serta benefit sudah lengkap.
3. Perhatikan review tamu
Dorong pelayanan yang baik dan lakukan evaluasi terhadap keluhan yang sering muncul.
4. Gunakan promo secara strategis
Tidak semua tanggal membutuhkan diskon yang sama. Promo dapat disesuaikan dengan low season, high season, maupun periode tertentu.
5. Pantau conversion rate
Jangan hanya melihat jumlah views. Lihat apakah traffic dari OTA benar-benar menghasilkan booking.
6. Kelola inventory dengan baik
Pastikan ketersediaan kamar selalu update di seluruh channel.
7. Bandingkan performa dengan kompetitor
Lihat perubahan harga, promo, rating, fasilitas, dan positioning kompetitor secara berkala.
Jangan Hanya Fokus pada Ranking
Ranking memang penting, tetapi posisi tinggi di OTA bukan satu-satunya indikator keberhasilan. Hotel juga perlu melihat revenue, occupancy, average daily rate (ADR), conversion rate, cancellation, dan kontribusi masing-masing OTA.
Misalnya, hotel berada di posisi tinggi tetapi harus memberikan diskon terlalu besar untuk mendapatkan booking. Belum tentu hasil akhirnya lebih menguntungkan. Sebaliknya, hotel dengan posisi sedikit lebih rendah tetapi memiliki harga dan conversion yang sehat bisa memberikan revenue yang lebih baik.
Jadi, tujuan akhirnya bukan sekadar "ranking naik", tetapi mendapatkan booking yang lebih berkualitas dan revenue yang lebih optimal.
Butuh Bantuan Mengelola OTA Hotel?
Mengelola OTA membutuhkan monitoring yang konsisten karena harga, kompetitor, promo, availability, dan demand dapat berubah setiap saat. Ecommerceloka membantu hotel dalam pengelolaan ecommerce hotel, termasuk optimasi OTA dan strategi distribusi online.
Untuk hotel yang membutuhkan jasa OTA Bali, pendekatannya sebaiknya tidak hanya fokus pada menaikkan visibilitas, tetapi juga menghubungkan strategi OTA dengan harga, inventory, conversion, dan target revenue hotel.
Dengan pengelolaan yang lebih terarah, hotel dapat memiliki strategi distribusi yang lebih konsisten dan tidak hanya bergantung pada promo untuk mendapatkan booking.
